Minggu, 14 Oktober 2018

Kembali pada Jati Diri

Sedetik, beberapa detik, kita merenung dalam keadaan yang masih baik, adakah dalam benak kita berpikir, sudah pantaskah diri kita?
Meletakkan diri pada keadaan yang sepantasnya, pada diri yang kaffah.
Pada hakikatnya kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Pada suatu kesempatan difirmankan oleh Allah,
Al-'A`rāf:26 - Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
Hal yang paling pantas, ialah mengembalikan jati diri pada keberadaan manusia, pada ketakwaan terhadap Allah semata. Semoga kita dijadikan manusia yang selalu menjaga ketakwaan pada Allah, amin.
(ad)

Selasa, 09 Oktober 2018

Usia dan Waktu

Beberapa waktu lalu seorang kawan bercerita tentang kabar duka. Sesekali kawan berkata, "Baru kemarin saya bertemu, beberapa saat kemudian kabar duka, tak disangka usianya sangat singkat."
Beberapa orang tua memberikan petuah hidup, hidup hanyalah mampir sejenak. Dan bagaimana dalam hidup, menjalani dengan sepenuh hati, hanya berdasarkan apa yang dilakukan, amal yang diperbuat. Bolehlah berangan lebih, tapi harus ingat, semua didasarkan pada keyakinan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah pun menakdurkan pada manusia, kapan dia berawal, kapan diakhiri.
Disampaikan oleh Allah SWT dalam surat (Fāţir):11 - Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.
Sedikit merenung, apa arti usia dan waktu hanyalah untuk beribadah pada-Nya.

(ad)

Jumat, 05 Oktober 2018

Mawas Diri

Ada beberapa kejadian, ada beberapa peristiwa yang harus menjadi koreksi diri. Iya, koreksi diri kita. Mengapa kita perlu mengoreksi diri kita? Padahal kita sendiri adalah pribadi yang bisa membuat sesuatu yang dinamakan kemauan, kita bisa makan karena lapar. Kita bisa pintar karena belajar, kita bisa tidur karena rasa kantuk.
Tak ada batasnya dalam mengoreksi diri sendiri. Menjadi pribadi yang baik tak harus menunggu sampai batas maksimal. Tatkala manusia sudah baik, sudah solat, bukankah tak ada salahnya misalkan, menambahkan jatah solat sunnah selain solat fardhu?
Seorang nabi pun selalu mengoreksi diri, bahkan sebelum beliau tidur, selalu mengoreksi seberapa besar dosa yang Ia perbuat dalam satu hari, setiap malam, setiap sebelum tidur.
Disebutkan dalam surat ('Āli `Imrān):15 - Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Sobat, pembaca yang dirahmati Allah, marilah kita menjadi pribadi yang tentunya mengoreksi diri, tatkala di setiap perbuatan bukanlah atas dasar penilaian makhluk, namun karena Allah semata.
Wallahualam
(an)