Rabu, 13 April 2016

TAHURA RADEN SOERJO

Taman Hutan Raya (Tahura)R. Soerjo bisa Anda jadikan alternatif wisata Kabupaten Malang. Minimal di kawasan ini Anda bisa menghirup udara segar, berendam di air panas yang mengandung belerang, atau melakukan wisata lintas rimba untuk melihat kekayaan flora-fauna di dalamnya.

Merasakan bersih dan sejuknya udara serta hangatnya air belerang alami tentu sangat menyenangkan. Paru paru seolah dibuat tersenyum lantaran udaranya bersih yang masuk di dalamnya. Kulit putih pun sersa ceria oleh belaian hangat air belerang yang mampu mengusir debu yang menempel atau jamur yang membuat noda. Itulah kira-kira sebagian manfaat berekreasi ke Tahura R.Soerjo. Objek wisata alam ini berada di kota Batu. Letaknya geografisnya yang berada di bawah Gunung Welirang membuat Tahuru R.Soejo berudara sejuk, suhunya berkisar 13-15 derajat celcius. Dari Kota Malang jaraknya sekitar 38 km atau 29 km dari Kota Batu. Bila anda ke sana, perjalanan menuju objek wisata alam ini sudah menjadi hiburan tersendiri. Selepas Desa Sumber Brantas Anda akan melewati jalan mulus dan berliku. Di kiri-kanannya Anda akan menikmati pemandangan indah berupa hamparan ladang sayur, kebon buah apel,serta kebun segala jenis bunga hias, seperti bunga krisan, bunga mawar, hingga bunga anggrek . Di areal masuk kawasan Tahura R.Soerjo deretan kios penjual makanan kecil dan oleh” menyambut anda. Di salah satu sisinya terpampang peta wisata yang menunjukkan lokasi objek – objek wisata di kawasan Tahura R.Soerjo. Tak jauh dari peta itu anda bisa menemukan loket tiket masuk. Dengan berbekal tiket yang anda beli, permandiaan air panas Cangar dan objek wisata lain di kawasan ini bisa anda nikmati. Di permandiaan air panas Cangar anda akan menemukan lima kolam yang terdiri atas dua kolam rendam terbuka, satu kolam rendam berdinding khusus untuk wanita, satu kolam renang dewasa dan satu kolam renang anak-anak. Dari kelima kolam itu, dua kolam rendam yang berdinding batu alam menjadi kolam rendam favorit. Tak heran kalau kedua kolam itu palig ramai didatangi pengunjung. Di kolam-kolam itulah anda bisa berendam dan menikmati hangatnya air yang mengandung belerang alam. Konon air tersebut dapat menyembuhkan penyakit kulit, rematik, sampai stroke. Sayangnya, lingkungannya di sekitar permandiaan ini sangat tidak terawat, sehingga tidak sedap di pandang mata.
Di Areal kolam renang anda juga bisa melihat kawanan kera berlompatan dari pohon ke pohon yang tumbuh di sekeliling areqa kolam. Anda bisa pula menemukan pedagang yang menawarkan minuman tradisional khas Cangar. Badek namanya. Minuman tradisional berupa air tapai ketan hitam ini di jual pergelas, per botol kecil, dan per botol besar. Selain minuman itu, pedagang yang sama juga menjual tapai ketan hitam yang dikombinasikan dengan lontong ketan putih . Usai berendam dan menikmati makanan dan minuman tradisional, anda bisa melanjutkan dengan wisata lintas rimba. Di kawasan taman hutan raya ini anda dapat menjumpai macam-macam tumbuhan liar macam cemara, saren, pasang, kemlandingan gunung, dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti padi-padian. Nama tiap tanaman umumnya dicantumkan pada papan informas pada tanaman tersebut. Anda dapat pula melihat beberapa jenis satwa liar macam rusa, kijang, babi hutan, lutung jawa, kera abu-abu, budeng, dan berbagai jenis burung seperti tekukur dan kerenda. Kalau masih belum capai, cobalah tengok pula Gua Jepang. Gua yang dibuat oleh penjajah Jepang pada saat perang dunia II hampir berakhir itu menjadi saksi bisu sejarah pada masa penjajahan Jeapang. Gua tersebut dijadikan bunker unttuk menyimpan barang sekaligus sebagai tempat perlindungan. Di lokasi wisata air panas Cangar terdapat beberapa goa jepang. Namun hanya beberapa yang masih bisa dimasukin, karena yang lain telah tertimbun.
Lokasi : Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu . Buka : Pukul 07.00-16.00 WIB Harga tiket masuk Rp 2.800 per orang Fasilitas pendukung : Gazebo, pusat informasi, pendopo, pondok wisata, penyewaan tikar dan pakaian renang, kantin/ warung makan, mushola, tempat parkir, dan toilet umum.

Diambil dari http://www.wisatamalangid.blogspot.com/2014/01/merasakan-pelukan-tahura-raden-soerjo.html?m=1

Jumat, 08 April 2016

Terungkap Alasan Orang China Suka Minum Air Panas


KONSUMSI minuman dingin adalah cara sempurna untuk melepas dahaga saat musim panas. Lain hal dengan masyarakat Tiongkok, justru rutin minum air panas meski cuaca tidak mendukung.
Jangan heran jika saat cuaca terik sekalipun, Anda melihat orang China menghirup air panas dari termos! Meski terlihat aneh, namun hal tersebut sudah menjadi tradisi masyarakatnya.
"Dalam keluarga besar saya, tidak ada yang berani untuk menuangkan bahkan air suhu ruangan. Air dingin akan memberi efek kram," ungkap wartawan Nicole Liu yang menulis untuk LA Times.
Ada kepercayaan China bahwa air panas punya sifat penyembuhan. Menurut Liu, kebiasaan minum air panas ini sudah dilakukan sejak 1949, ketika kualitas air keran memburuk di negara itu. Sehingga pemerintah menyerukan untuk konsumsi air matang agar bakteri pada air bisa hilang.
"Ada ruang perebusan air dan orang-orang selalu dikirimkan air panas ke rumahnya pada saat itu," ungkap Liu.
Mereka biasanya melakukan perebusan air pada pagi hari. Kemudian mereka terus mengatakan itu untuk kesehatan dan kebersihan masyarakatnya.
Begitu juga pada prinsip pengobatan China kuno, dimana air panas punya peranan penting di dalamnya. Perlu diketahui, konsumsi air hangat pada pagi hari sangat baik untuk pencernaan, meningkatkan sirkulasi darah dan detoksifikasi.
Sementara itu, banyak yang percaya bahwa air dingin dapat memperlambat fungsi organ dan kram otot. Begitu juga dengan makanan bersuhu panas yang biasa dikonsumsi.
Karena itu, sebagian restoran China tradisional selalu memberi pilihan minuman panas, atau minuman bersuhu ruang. Jarang ada yang menawarkan minuman dingin. Jika pun ada, pasti restoran tersebut sudah mengadopsi kultur yang lebih modern. Demikian seperti dilansir dari
Odditycentral , Jumat (8/4/2016) (ndr)

Kena Tilang? Bayarnya Sekarang Bisa Lewat Internet

Yudhianto - detikInet


Jakarta - Yang menyebalkan ketika kena tilang adalah pemilik kendaraan harus meyiapkan waktu untuk datang ke pengadilan demi menebus surat-surat kendaraan. Namun ke depannya hal tersebut mungkin tak perlu dilakukan lagi, sebab bayar tilang sekarang bisa lewat jalur online.
Layanan ini sendiri sejatinya telah diluncurkan sejak 4 April lalu, jadi pemilik kendaraan yang terkena tilang sekarang bisa langsung mengecek denda yang harus dibayarkannya melalui website wilayah kejaksaaan masing-masing.
Misalnya kalau pemilik kendaraan ditilang di Jakarta Barat, maka yang harus dibuka adalah website Kejaksaan Negeri Jakarta Barat. Di situ akan terdapat menu tilang online yang kemudian harus diisi data-datanya seperti email dan lain-lain, oleh pemilik kendaraan.
Sesaat kemudian akan muncul nominal biaya yang harus didaftarkan. Selanjutnya pemilik kendaraan bisa membayarnya langsung ke Bank atau via ATM. Adapun waktu yang diberikan untuk membayar denda adalah dua hari.
Namun wajib dipastikan, pemilik kendaraan yang kena tilang baru bisa menggunakan jalur online sehari setelah jadwal sidang tilang. Jadi kalau misalnya kebagian jadwal sidang tilang pada tanggal 15, maka pemilik kendaraan baru bisa menggunakan jalur online di tanggal 16.
Sayang tilang online ini masih belum merata di seluruh Indonesia. DKI Jakarta menjadi daerah pertama yang sudah menawarkannya di lima wilayahnya. Namun selain itu juga ada kabupaten Sleman di D.I. Yogyakarta.
Berikut alamat website Kejaksaan yang sudah memiliki fitur tilang online,
- Kejaksaan Negeri jakarta Selatan
http://www.kejari-jaksel.go.id/tilang
- Kejaksaan Negeri jakarta Barat
http://www.kejari-jakbar.go.id/index.php/sarana/pendaftaran-pembayaran-daftar-online
- Kejaksaan Negeri jakarta Timur
http://www.kejari-jaktim.go.id/
- Kejaksaan Negeri jakarta Utara
http://www.kejari-jakut.go.id/sarana/tilang
- Kejaksaan Negeri jakarta Pusat
http://www.kejari-jakpus.go.id/
- Sleman, Yogyakarta
http://tilang.info/#

Rabu, 06 April 2016

Bahasa Indonesia Berpeluang Menjadi Bahasa bagi Asean



Surabaya (ANTARA News) - Pakar bahasa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Suhartono SPd MPd menilai Bahasa Indonesai berpotensi menjadi Bahasa ASEAN pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
"Ada dua bahasa yang berpotensi menjadi Bahasa ASEAN, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu," kata dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa itu kepada Antara di Surabaya, Jumat.
Namun, ia meyakini Bahasa Indonesia lebih berpotensi daripada Bahasa Melayu, karena setidaknya ada empat argumentasi yang ilmiah, meski pemerintah masih perlu melakukan diplomasi.
"Keempat argumentasi itu adalah Bahasa Indonesia itu sudah banyak dipelajari pada banyak negara, mudah dikuasai, laju perkembangannya fantastis, dan sebagaian kosa kata Indonesia juga ada di dalam bahasa negara-negara ASEAN," katanya.
Bedanya, distribusi Bahasa Indonesia tidak merata seperti Bahasa Melayu yang ada di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan, namun Bahasa Indonesia di Indonesia sendiri sudah mencapai 60 persen pengguna di tingkat ASEAN.
"Apalagi, meski tidak merata seperti Melayu, tapi kosa kata Indonesia ada pada sejumlah negara ASEAN, seperti candra di Kamboja dan Indonesia sama-sama berarti rembulan, atau bum atau land di Thailand yang di Indonesia mirip kata bumi atau tanah," katanya.
Bahkan, kosa kata di Thailand juga mirip kosa kata bahasa daerah di Indonesia, seperti suwarna di Thailand yang berarti emas dan dalam Bahasa Jawa juga berarti emas. "Atau, kodang di Thailand juga mirip gudang dalam bahasa kita," katanya.
Oleh karena itu, Bahasa Indonesia yang tidak merata dalam sebaran seperti Bahasa Melayu itu juga lebih mudah diterima dan sudah lama menjadi bahasa komunikasi ada tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
"Apalagi, saya mendengar di beberapa negara ASEAN juga sudah banyak dipelajari Bahasa Indonesia untuk kepentingan MEA. Di luar itu, Bahasa Indonesia juga sudah banyak dipelajari di Jepang, Australia, dan negara lain di dunia," katanya.
Senada dengan itu, Rektor Unesa Prof Warsono mendukung ikhtiar pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara ASEAN agar Bahasa Indonesia bisa menjadi Bahasa ASEAN.
"Unesa turut mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN, karena pengguna bahasa Melayu mencakup 60-70 persen penduduk ASEAN di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam," katanya.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Tua Tak Jadi Alasan untuk Ikut UN


BOGOR, KOMPAS.com - Usia tak menyurutkan tekadnya untuk menyelesaikan jenjang pendidikan. Setidaknya, itulah yang tergambar dari sosok laki-laki satu ini. Namanya Ardi Yusuf.
Ia tercatat sebagai peserta ujian nasional (UN) tertua di Kota Bogor. Bagaimana tidak, Ardi sudah menginjak usia 61 tahun saat ujian nasional tahun ini. Meski tak muda lagi, ia tetap antusias mengikuti ujian kejar Paket C setara SMA.
Sesekali, Ardi terlihat mengerutkan dahi saat menjawab soal ujian. Meski begitu, ia percaya diri dan yakin dengan semua jawaban.

"Lumayan susah soal-soal ujiannya. Tapi saya yakin jawabannya pasti benar," ucap Ardi, saat ditemui usai ujian paket C, Selasa (5/4/2016).
Kakek yang kesehariannya berjualan sembako di rumahnya ini menuturkan, tidak merasa malu apalagi minder di usianya yang tak lagi muda masih mengikuti ujian. Menurut dia, menuntut ilmu tidak kenal waktu dan usia.
"Ya, harus tetap semangat. Pendidikan itu penting sekalipun sudah tua, kayak saya," kata kakek yang dianugerahi tiga cucu ini.
"Orang lain mungkin berpandangan kalau sudah tua, ijazah enggak ada gunanya. Tapi bagi saya tidak. Setidaknya, saya bisa memberi contoh kepada anak-anak saya," tambah dia.
Ardi tercatat sebagai siswa Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Pajajaran, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara.
Ia bertekad mendapatkan ijazah setara SMA hanya untuk memotivasi anak-anak muda agar semangat menuntut ilmu dan tidak mudah membeli ijazah palsu.
Dalam kesehariannya, ia senang membaca. Semua hal dia baca, dari koran hingga buku-buku pelajaran. Meskipun, suka terasa pusing jika membaca terlalu lama.
"Paling sering sih nonton berita di TV, lihat perkembangan negara ini," tuturnya.

Penulis: Kontributor Bogor, Ramdhan Triyadi Bempah
Editor: Erlangga Djumena